Ruang Kantor CBD: Penyerapan Kuartal II Melonjak

Penyerapan pasar perkantoran di distrik pusat bisnis atau CBD Jakarta sepanjang kuartal kedua 2016 meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Emanuel B. Caesario | 01 Juli 2016 14:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Penyerapan pasar perkantoran di distrik pusat bisnis atau CBD Jakarta sepanjang kuartal kedua 2016 meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Tidak adanya pasokan baru selama kuartal ini menyebabkan okupansi kantor sedikit membaik.

Riset PT Cushman & Wakefield Indonesia menunjukkan, permintaan dan aktivitas transaksi ruang perkantoran relatif lebih bergairah pada kuartal kedua 2016.

Berdasarkan jenis usaha, dominasi transaksi berasal dari sektor telekomunikasi, teknologi informasi dan konsultan.

Selama kuartal kedua 2016, tercatat penyerapan sebesar 41.800 m2 ruang perkantoran di wilayah CBD.

Jumlah ini sekitar 408% lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, tidak ada pasokan gedung baru yang selesai.

Head of Research and Advisory PT Cushman & Wakefield Indonesia Arief Raharjo mengungkapkan, kian kompetitifnya harga sewa ruang perkantoran menyebabkan banyaknya penyewa yang merelokasi kantornya ke kantor yang lebih berkualitas, khususnya ke gedung kelas A yang baru selesai.

Penyerapan terbesar memang terjadi di kelas A sebesar 58.600 m2, sementara kelas B dan C justru mengalami penyerapan negatif karena relokasi penyewa ke kelas A.

Alhasil rata-rata penyerapan seluruh kelas menjadi 41.800 m2.

Okupansi pun sedikit meningkat menjadi 82,1% dibandingkan 81,36% pada kuartal pertama lalu, tetapi semata-mata karena tidak adanya pasokan baru.

Arief mengatakan, dibandingkan tahun lalu, pasokan baru ruang kantor tahun ini sedikit lebih rendah karena banyak pengembang yang memutuskan menunda penyesaian gedung perkantorannya. Tahun lalu, pasokan baru mencapai 636.200 m2.

Meski begitu, jumlah pasokan tahun ini tetap tergolong tinggi, yakni diperkirakan mencapai 567.000 m2 di akhir tahun. Alhasil, tingkat okupansi ruang perkantoran di akhir tahun nanti akan semakin rendah dibandingkan kondisi akhir tahun lalu.

“Kita melihat dengan aktifnya inquiry, ada kenaikan permintaan. Namun, karena supply yang masih tinggi itu, tingkat huniannya terus turun. Kuartal yang sama tahun lalu masih 92,1%, sekarang 82,1%. Kita lihat akan turun lagi sampai akhir tahun menjadi 79% karena pasokannya masih sangat tinggi,” katanya dalam paparan riset Chusman & Wakefield, dikutip Jumat (1/7/2016).

Dengan kondisi ini, dirinya memproyeksikan harga sewa ruang perkantoran akan terus tertekan di sisa tahun ini.

Para pemilik gedung akan menghadapi tingkat persaingan yang tinggi dalam mempertahankan para penyewa anchor dan penyewa besar lainnya agar tetap bertahan di gedung mereka.

Arief mengatakan, pasar perkantoran sangat erat terkait dan berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah 6%, sulit diharapkan pasar perkantoran dapat pulih di 2017, mengingat rata-rata pasokan baru beberapa tahun mendatang sekitar 500.000 m2 per tahun.

Senior Manager Research and Advisory Office Sector PT Chusman & Wakefield Indonesia Nurdin Setiawan mengatakan, tantangan berat pasar perkantoran ini sejatinya sudah disadari oleh para pengembang.

Sejak pelemahan ekonomi pada 2015 lalu hingga kini, tercatat sekitar 700.000 m2 ruang perkantoran baru yang ditunda peluncurannya.

Tag : perkantoran, cbd
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top