Ini 5 Pemenang Desain Bangunan Pesisir Pantai

PT Onduline Indonesia, produsen atap Onduline dan Onduvilla menggelar kompetisi Onduline Green Roof Award (OGRA) 2017 sebagai apresiasi untuk kemajuan arsitek.
Ipak Ayu H Nurcaya | 24 November 2017 10:27 WIB
Rumah pesisir - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Onduline Indonesia, produsen atap Onduline dan Onduvilla menggelar kompetisi Onduline Green Roof Award (OGRA) 2017 sebagai apresiasi untuk kemajuan arsitek.

Sayembara ini ditujukan untuk perorangan profesional di bidang arsitek, interior desainer, pengembang, konsultan perencana dan kontraktor pelaksana yang telah berprofesi minimal satu tahun.

Perusahaan menggandeng Green Building Council Indonesia (GBCI), sayembara ini mensyaratkan para peserta untuk merancang desain bangunan atau arsitektur.

Lomba ini dibuka tanggal 1 April-30 Oktober 2017 dan mengangkat tema "Desain Atap Pondok Wisata Tepi Pantai" dengan tagline "Atap Pilihan Arsitek".

Pemilihan tema tersebut bertujuan untuk mendukung bangunan di sekitar pesisir pantai di 8 tempat destinasi wisata yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yaitu Kepulauan Seribu, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Wakatobi, Mandalika, Labuan bajo, Morotai, dan Bunaken.

Dari 8 tempat wisata itu, peserta dibebakan memilih lokasi mana yang akan menjadi acuan pondok wisata yang dirancangnya.

Country Director PT Onduline Indonesia Tatok Prijobodo mengatakan tujuan kompetisi ini untuk mencari ide-ide kreatif, inovatif dan suistainable terkait rancang bangun atap hunian.

"Salah memilih material atap bisa fatal karena dampaknya kemana-mana, salah satunya bocor saat hujan, panas saat kemarau dan lainnya," ujar katanya melalui siaran pers, Jumat (24/11/2017).

Rancangan bangunan harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain memiliki energi alternatif yang berasal dari energi terbarukan seperti sel surya atau mini-hydro (alternative energy) dan desain atap yang nyaman dan sehat bagi penghuni rumah (healthy homes).

Selain itu, rancangan bangunan juga harus memperhatikan pemilihan material atap yang mampu mengurangi efek panas di dalam ruangan.

Sementara itu, selaku juri tetap OGRA Naning Adiwoso menuturkan, Indonesia yang memiliki iklim tropis harus diketahui dan dipahami oleh semua pengembang, desainer atau arsitek dalam mendesain sebuah hunian.

"Di kompetisi ini, desain atap yang menarik dan unik adalah desain dengan bangunan yang menyatu dengan alam, tidak mudah bocor dan mudah konstruksinya," kata Naning.

Adapun fokus penilaian terletak pada fungsional seperti atap tidak bocor, ventilasi maksimal dan memperhatikan sense of place dari kearifan lokal suatu budaya daerah yang dipilih.

Tidak hanya itu penilian juga melihat kesesuaian ekologi dan desain arsitektur dengan kondisi hunian tepi pantai. Tercatat sebanyak 120 karya yang masuk. Jumlah ini meningkat dibanding sayembara OGRA I yang menampung 80 karya dan OGRA 2 sebanyak 100 karya.

Selain Totok dan Naning, Founder SIG Architect Sigit Kusumawijaya juga turut menjadi juri pada sayembara tersebut. Usai menyeleksi seluruh karya, tim juri memutuskan lima karya terbaik. Pemenang pertama diraih oleh Niko Aditama asal Jakarta dengan judul karya "Serupa-Bebatu (Belitung Overwater Bungalow)".

"Desain terunik tapi tidak terlalu ekstrim karena berhasil memasukkan unsur alam, memperlihatkan rendering/layering area dan bangunan bisa bercampur dengan lokasi yang dipilih," terang Sigit.

Lima pemenang OGRA:

Juara 1, Niko Aditama, Jakarta, Tema Desain: Serupa-Bebatu (Belitung Overwater Bungalow)

Juara 2, Mifta Syahrudin, Surabaya, Tema Desain: Rumbabel Repin (Rumah Bangka Belitung Republik Indonesia)

Juara 3, Astungkara, Jakarta, Tema Desain: Tenun Beruga, Mandalika

Harapan 1, Michael Sugiyono Susanto, Tangerang, Tema Desain: Rumah Wisata Sapau Siboe Labuan Bajo

Harapan 2, Tobias Kea, Surakarta, Tema Desain: Rumah Alang, Pantai Serenting Mandalika.

Tag : desain rumah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top