50% Anggota Asosiasi Coworking Space Ada di Jakarta

Asosiasi Coworking Space Indonesia mengklaim sekitar 50% anggota coworking space yang tergabung asosiasi masih berlokasi di Jakarta sebagai kota dengan ekosistem komunitas terbanyak.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 08 Oktober 2018 20:16 WIB
Suasana co-working space di Cocowork The Maja, Jakarta Selatan. - cocowork.co

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Coworking Space Indonesia mengklaim sekitar 50% anggota coworking space yang tergabung asosiasi masih berlokasi di Jakarta sebagai kota dengan ekosistem komunitas terbanyak.

Ketua Asosiasi Coworking Space Indonesia Faye Alund mengatakan asosiasi ini mulai berdiri sejak 2016. Awalnya pada 2016 baru sekitar 60 coworking space yang ada, namun pada 2017 naik tiga kali lipat menjadi 180, dan tahun ini melampaui 200 unit.

Saat ini jumlah coworking space di Indonesia sudah mencapai sekitar 220 di 44 kota, termasuk di kota-kota kecil seperti Kediri, Demak, dan Madiun.

"Indonesia paling padat ya Jawa. Paling banyak populasi di Jakarta dan 80% coworking masih Jawa. Setengahnya iu Jakarta. Sebagian besar coworking space menjamur yang ada 46% dalam 3 tahun terakhir karena ekosistem awal mulai bangun. Sebab kita mau menggerakkan digital ekonomi. Bukan hanya untuk digital start-up. Ada creative hub, creative spaces, itu adalah workstyle," kata Faye di Equity Tower, Senin (8/10/2018).

Faye menilai nantinya pemain coworking space yang akan bertahan dalam persaingan menjamurnya bisnis ini adalah mereka yang memahani siklus bisnis. Pada akhirnya, coworking space yang sukses adalah yang berhasil dalam pemberdayaan komunitas maupun secara finansial. Misalnya, coworking space yang bisa mendapat investor. Misalnya, ketika market turun, si pendiri coworking space harus memiliki inovasi untuk bertahan.

"Coworking kayak restoran. Suka pizza apa. Setiap coworking punya rasanya sendiri. Orang yang cocok disini belum tentu cocok di coworking lain. Ini tentang komunitas dan passion foundernya. Kita selalu bilang ada coworking are not kompetitor. Kompetitor kita adalah kafe dan rumah," tuturnya.

Dia menilai pelaku coworking space yang juga bisa melakukan merger dan kerja sama dengan pihak asing. Faye berpendapat, ini adalah solusi pengembangan bisnis mengingat konsep coworking space sangat bergantung dari passion pemiliknya.

Dia pun menilai merger dengan angel investor dan funding tidak menjadi masalah selama bisa mempertahankan bisnis coworking space.

"Cek background founder itu penting. Passion adalah encourage untuk create dia punya company digital dan konten. Not just the business tetapi investor lihat ada potensi tumbuh dan berkembang. Jadi kalau ada core community, cuma sekepal tangan kita, itu sudah ada modalnya, ketika bangun space tidak ada corenya malah sia-sia," terangnya.

Dia menilai setiap daerah di Indonesia memiliki konsep coworking space yang berbeda. Sebagai contoh, coworking space milik Faye berlokasi di Sanur, Bali. Banyak juga pelaku coworking space adalah pemain asing. Maka, dia berpendapat coworking space harus bisa memberikan dampak terhadap ekonomi, tidak sebatas mengembangkan komunitas semata.

"Jadi makanya dipastikan coworking space itu bisa menghasilkan bisnis baru yang bisa mensupport pajak kita juga nantinya," kata Faye.

Tag : coworking space
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top