TOD Diprediksi Kian Moncer Tahun Depan

Pengembangan properti yang berada pada jalur trasnportasi masal, baik LRT, MRT, maupun Commuter Line dinilai akan mencapai puncaknya pada 2019.
Finna U. Ulfah | 04 Desember 2018 17:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan properti yang berada pada jalur trasnportasi masal, baik LRT, MRT, maupun Commuter Line dinilai akan mencapai puncaknya pada 2019.

Associate Director PT Ciputra Residence Yance Onggo mengatakan arah pengembangan pada tahun depan diproyeksikan masih akan sama seperti pada 2015 sebelumnya, yaitu lebih mendekati stasiun transportasi masal.

"Pengembangan properti di jalur kereta akan meledak luar biasa tahun depan seiring dengan banyaknya proyek yang berada di jalur tersebut juga akan diresmikan pada 2019," ujar Yance saat konferensi pers peluncuran klaster terbaru Citra Maja di Jakarta, Senin (3/12/2018).

Yance menilai pemilihan hunian oleh masyarakat saat ini telah dipengaruhi oleh preferensi berkendara yang juga telah bergeser kepada penggunaan transportasi masal seperti kereta dibandingkan dengan kendaraan pribadi.

Jika sebelumnya hampir semua pengembang properti menempel dengan akses tol, lanjut Yance, dalam beberapa tahun terakhir justru hampir semua pengembangan properti mengarah kepada konsep transit oriented development yang terinteregasi dengan stasiun LRT, MRT, dan Commuter Line.

"Kalau dulu pengembangan proyek berdekatan dengan akses tol pasti laku keras, sekarang konsumen lebih memilih hunian yang berdekatan dengan stasiun. Buktinya Citra Maja Raya, kalau tidak berdekatan dengan Stasiun Maja, tidak mungkin laku banyak dengan cepat," papar Yance.

Citra Maja Raya, proyek garapan PT Ciputra Residence, merupakan hunian berskala kota yang dibangun dengan konsep transit oriented development atau TOD di lahan seluas 2.600 hektare.

Sejak diluncurkan pertama kali pada 2015, Citra Maja Raya kini telah menjual dan membangun sebanyak 14.000 unit hunian dengan sebanyak 7.000 unit dari total keseluruhan telah diserahterimakan. Adapun, harga hunian yang ditawarkan Citra Maja Raya relatif terjangkau mulai dari Rp119 juta hingga Rp500 juta per unit.

Yance mengatakan yang membedakan proyek TOD miliknya dengan proyek pengembang lain adalah Citra Maja Raya yang dibangun mendatar, sedangkan mayoritas pengembangan TOD di sekitar Jabodetabetk merupakan hunian vertikal dengan harga yang kurang terjangkau, yaitu mulai dari sekitar Rp300 juta.

Bahkan antusias konsumen terhadap proyek Citra Maja Raya menjadikan proyek tersebut termasuk ke dalam 5 proyek dengan kontribusi penjualan terbesar untuk Ciputra Grup. Sejak pertama kali diluncurkan, Citra Maja Raya telah mengantongi nilai penjualan sebesar Rp3,2 triliun.

Potensi booming pada 2019 tersebut juga akan digunakan kembali oleh Ciputra dengan meluncurkan proyek TOD baru berdekatan dengan Stasiun LRT Sentul dengan luas 1.000 hektare bertajuk Citra Sentul Raya. Proyek tersebut merupakan join operation PT Ciputra Residence dengan PT Tridaya Semesta dan PT Sarana Golf Utama.

TETAP MENARIK

Vice President Coldwell Banker Dani Indra Bhatara menyangkal produk properti yang berada jalur kereta akan mengalami ledakan besar pada tahun depan. Menurutnya, tren pengembangan dengan konsep tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir sehingga konsumen pun sudah awam terhadap pengembangan konsep tersebut.

"Kalau produk ini akan tetap menarik pada 2019 iya benar, cuma untuk permintaan menjadi berkali-kali lipat naik sehingga booming saya rasa belum," ujar Dani.

Sejak pertama kali dikenalkan ke pasar, lanjut Dani, pasar pun sesungguhnya telah memberikan respon yang positif terhadap pengembangan proyek TOD. Terbukti dari beberapa proyek yang diluncurkan dengan konsep tersebut berhasil menjual habis unit yang ditawarkan pada hari yang sama dengan peluncuran proyek.

Walaupun demikian, Dani mengatakan dengan diresmikannya beberapa proyek infrastruktur pada 2019 akan mempengaruhi pandangan konsumen terhadap konsep TOD karena akan lebih terlihat keuntungan dan manfaat memiliki hunian dekat dengan stasiun.

Sementara itu, terkait dengan jumlah pasokan proyek TOD pada jalur kereta, Dani mengatakan akan tetap bertambah tetapi jumlahnya tetap tidak signifikan akibat terbatasnya lahan pengembangan di sekitar stasiun.

Pengembangan properti pada jalur LRT saat ini telah banyak dikuasai oleh pengembang berplat merah, yaitu PT Adhi Commuter Properti (ACP) sehingga jika nantinya terdapat tambahan proyek lainnya tidak akan sedekat milik ACP, hanya akan menjual kemudahan akses stasiun.

Untuk pengembangan di Stasiun lahan pun juga dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia sehingga pengembangan hunian terintegrasi pun terbatas. Namun, proyek TOD Stasiun yang mayoritas masih terkendala perizinan saat ini, diprediksi akan banyak diluncurkan pada 2019 setelah proses legal rampung.

Sedangkan, untuk proyek yang berdampingan dengan MRT akan sulit banyak pasokan akibat jalurnya yang berada pada tengah kota sehingga lahan pengembangan terbatas dan sudah semakin mahal.

Tag : transit oriented development
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top