Di Jakarta, Mal Jadi Mesin Pertumbuhan Properti

Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) memprediksi hingga akhir tahun pertumbuhan bisnis properti di Jakarta dan sekitarnya akan lebih ditopang oleh sektor ritel.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 11 Agustus 2015  |  11:50 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan proyek properti di Jakarta, Senin (22/6/2015). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) memprediksi hingga akhir tahun pertumbuhan bisnis properti di Jakarta dan sekitarnya akan lebih ditopang oleh sektor ritel.

Amran Nukman, Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, mengatakan segmen ritel, yakni pusat perbelanjaan masih bisa bertahan dari kelesuan yang melanda sektor properti .

"Yang masih kuat bertahan mall dan ritel saja," seperit dikutip dari harian Bisnis Indonesia, Selasa (11/8/2015).

Menurut Amran, segmen ritel masih bisa bertahan karena tingkat konsumsi masyarakat masih berada dalam tren optimis kendati mulai melandai. Bank Indonesia mencatat, per Juli 2015 indeks keyakinan konsumen masih tercatat di level optimistis sebesar 109,9.

Namun, para pengembang di segmen ritel menurrut Amran rela mengurangi margin dengan menahan harga sewa. Padahal, biaya operasional terutama upah tenaga kerja mengalami tren kenaikan.

Sebagaimana diketahui, upah minimum provinsi di DKI Jakarta tahuni ini mengalami kenaikan sebesar 10,6% menjadi Rp2,7 juta.

Amran mengakui, moratorium izin pembangunan pusat perbelanjaaan baru yang dimulai sejak 2012 cukup menguntungkan pengembang yang memiliki portofolio di segmen ritel.

Dengan kata lain, pasokan ruang ritel tetap terjaga seiring perlambatan permintaaan. Padahal, di segmen perkantoran, pasokan berlebih sementara tingkat hunian tumbuh tipis.

James Austen, Head of Retail JLL Indonesia, mengatakan peritel asing tetap memandang positif pasar ritel Indonesia, tecermin dari pembukaan gerai-gerai busana dan makanan.

Hingga kuartal II 2015, tingkat hunian di segme ritel turun 100 basis poin menjadi 91%. "Ini tidak mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kuartal I 2015," katanya.

Senada, Head of Research and Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan minat perusahaan asing untuk menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan Jakarta masih tinggi, didorong optimisme pertumbuhan kelas menengah.

Kontributor okupansi berikutnya setelah fashion ialah penyewa dari perusahaan makanan dan minuman (F&B/ food and beverage), kemudian non-F&B seperti pusat hiburan, perawatan kecantikan, dan kosmetik, tulisnya dalam riset yang dikutip Bisnis.com.

Arief menilai, tingkat okupansi pusat perbelanjaan juga stabil sebagai dampak dair moratorium izin pembangunan mal baru. Dia menyebut jumlah pasokan kumulatif ruang perbelanjaan di Jakarta mencapai 3,98 juta meter persergi dengan porsi 72% untuk sewa dan 28% untuk strata.

Di paruh kedua tahun ini, Cushman & Wakefield Indonesia memperkirakan tambahan ruang ritel sebesar 3,9% atau 154.300 meter persegi. Jika pembangunan tambahan ruang ritel itu tepat waktu, pasokan akan bertambah menjadi 4,14 juta meter persegi.[]

Tag : Jakarta, properti, mal
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup