Harga Lahan Premium di Jakarta Terkoreksi Sampai 30%

Pelaku usaha menilai harga lahan premium di Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengalami tren pertumbuhan yang menurun. Namun, kondisi tersebut tidak membuat pengembang gencar menambah aset tanah perusahaan.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 02 September 2015  |  21:50 WIB
Pelaku usaha menilai harga lahan premium di Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengalami tren pertumbuhan yang menurun. Namun, kondisi tersebut tidak membuat pengembang gencar menambah aset tanah perusahaan. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha menilai harga lahan premium di Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengalami tren pertumbuhan yang menurun. Namun, kondisi tersebut tidak membuat pengembang gencar menambah aset tanah perusahaan.

Prinsipal Li Realty Ali Hanafia menuturkan harga lahan di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara akan terkoreksi 20% - 30% pada tahun ini. Adanya penurunan ini merupakan buntut meroketnya harga pada periode 2012 – 2013 yang mencapai 100% hingga 200%.

Awalnya, harga lahan di Jakarta Selatan berkisar Rp30 juta – Rp40 juta per meter persegi, yang kemudian melonjak pada 2012 – 2013 menjadi sebesar Rp80 juta – Rp120 juta per meter persegi. Kondisi serupa juga terjadi wilayah properti mewah di Jakarta Pusat.

Sedangkan area primer di Jakarta Utara, Harga lahan yang tadinya dibanderol Rp20 juta – Rp30 juta per meter persegi melambung sampai Rp80 juta per meter persegi.  

“Sebagian besar lahan bagus di Ibukota Negara terkoreksi, terutama Jakarta Selatan dan Jakarta Utara. Namun, koreksi tidak bisa langsung anjlok, karena yang memegang properti ialah orang-orang yang punya dana,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (1/9/2015).

Kenaikan pertumbuhan harga justru terjadi di Jakarta Timur. Bila sebelumnya nilai jual lahan sebesar Rp15 juta per meter persegi,  sampai akhir tahun 2015 harga bisa naik mencapai Rp20 juta – Rp25 juta per meter persegi.

Jakarta Barat sendiri mengalami kenaikan harga lahan yang stabil sampai akhir tahun, yaitu sekitar Rp30 juta – Rp40 juta per meter persegi dari saat ini sebesar Rp15 juta – Rp30 juta per meter persegi. Dalam periode 2012 – 2013, harga pun bertambah hanya 20% per tahun.

Menurut Ali, Jakarta Barat mengalami pertumbuhan harga yang normal, yakni 10% - 20% di atas inflasi sejak 2014. Momen itu bertepatan dengan tren perlambatan pasar properti secara umum.

Idealnya, dalam satu wilayah yang berdekatan, selisih harga lahan hanya berkisar 20%. Karena itu, dia menganggap Jakarta Timur tetap akan mengalami kenaikan, karena sebelumnya harganya jauh di bawah area Jakarta lainnya.

Sebagai barometer nasional, kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Medan, Palembang, Bandung, Makassar, dan Balikpapan akan mengikuti situasi Jakarta. Pada lahan yang sudah mengalami lonjakan harga, kenaikannya juga terkoreksi. Sedangkan wilayah yang masih under value berpotensi terkerek signifikan.

Umumnya, sambung Ali, investor atapun pengembang menunggu harga terkoreksi untuk menambah tabungan tanah sambil menunggu situasi perekonomian membaik. Namun, dia belum mengetahui apakah kondisi saat ini ini akan membuat pelaku usaha tertarik melakukan ekspansi.

Menurutnya harga lahan terutama pada area yang sudah matang akan terus bertumbuh. Apalagi pemerintahan Presiden Joko Widodo serius menggenjot bidang infrastruktur dan pendukungnya seperti listrik serta sarana transportasi masal. Hal inilah yang membuat bisnis properti nasional semakin prospektif ke depannya.

Tag : bisnis properti
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top