Pelaku Usaha Bertumpu Pada Zonasi

Pelaku usaha perhotelan menilai zonasi perhotelan di Bali cenderung menyimpang dengan kondisi tumpang tindih pembangunan antara hotel berbintang dengan hotel non-berbintang.
Anitana Widya Puspa | 25 April 2017 03:54 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha perhotelan menilai zonasi perhotelan di Bali cenderung menyimpang dengan kondisi tumpang tindih pembangunan antara hotel berbintang dengan hotel non-berbintang.

Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan zonasi yang tak jelas itu telah menimbulkan persaingan bisnis perhotelan yang semakin ketat dan tidak sehat di antara para pelaku usaha. Padahal kondisi perhotelan sendiri menunjukkan tren perlambatan.

Pembangunan hotel masih sah-sah saja untuk terus berlanjut di Bali namun dengan adanya zonasi yang terukur. Zonasi kata dia perlu dilakukan berdasarkan karakteristik dan klasifikasi wilayah Bali. Zonasi yang tak teratur lanjut dia telah menimbulkan persaingan harga yang tidak wajar.

“Misalnya kawasan hotel di Nusa Dua itu dizonasikan sebagai pembangunan hotel bintang lima semua, nggak bisa digabung dengan pembangunan hotel melati, itu membuat kawasan ekslusif dirusak. Kami menjual kamar dua tiga juta tapi ada yang menyewakan  di atas 600 ribu. Jadi merusak pasar,” katanya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Hal itu, kata dia, bukan merupakan sikap ekslusifitas namun untuk menciptakan pasar yang sehat sesuai dengan kelasnya. Dengan demikian diharapkan pelaku usaha tak perlu saling membanting harga.

Selain itu pria yang dikenal dengan Cok Ace itu menjelaskan maksud dari Zonasi juga diperlukan untuk mempertahankan wilayah yang kental dengan nuansa budaya.

“Kalau di Kuta boleh dibangun tiga empat lantai kalau Ubud kawasan  budaya maksimum dua lantai. Nah ini kemudian dari segi KLB juga kute bisa 60% bangunanan  kalau ubud hanya 40% atu 50%,” imbuhnya.

Faktor zonasi dan permasalahan persediaan dan permintaan itu memicu terjadinya penurunan indeks lama tinggal wisatawan di hotel sebesar 20,5% dari 3,9 hari menjadi 3,1 hari. Apabila dibandingkan antara peningkatan kedatangan wisatawan dan penurunan lama tinggal, pariwisata Bali menurut dia hanya tumbuh dua persen

Sementara itu Ferry Salanto Senior Associate Direktur Colliers Indonesia mengatakan penurunan lama tinggal di hotel di Bali oleh para wisatawan dipengaruhi oleh banyaknya pasokan hotel baru dan berkembangnya destinasi pariwisata baru.

Bali kembali menjadi pusat perhatian semenjak kedatangan Raja Salman dan koleganya untuk berlibur, akna tetapi kunjungannya tidak berdampak langsung pada peningkatan kinerja perhotelan.  Ferry mengatakan hotel-hotel yang baru dibangun pada kuartal terakhir tahun lalu masih mencoba menangkap pasar. Sementara hotel baru yang dioperasikan pada kuartal pertama 2017 masih berupaya keras mempromosikan diri ke pasar.

“Sepanjang tahun ini Bali masih akan mengantisipasi kehadiran 1,144 kamar baru dari hotel bintang empat dan 312 kamar dari hotel bintang lima,” katanya.

Colliers mencatat sepanjang kuartal pertama tahun ini baik tingkat okupansi dan tingkat harga sewa masih lemah secara kuartalan. Hingga Februari 2017 Tingkat okupansi di Nusa Dua dan Tanjung Benoa berada di kisaran 70%, wilayah lainnya seperti Jimbaran, Ubud, Kuta justru dibawah 70%.

Akan tetapi kinerja perhotelan di Bali khususnya tingkat okupansi akan tetap didorong oleh kegiatan Mice (Meeting Incentive Converence Exhibition) di wilayah  Nusa Dua.

Bali memerlukan eksplorasi lebih lanjut untuk aktivitas yang mampu menarik kedatangan wisatawan asing. Thailand sebut Colliers bisa menjadi contoh bagi Indonesia.  Negeri Gajah putih itu berhasil bertransformasi dari turisme yang berkaitan dengan industri seks menjadi destinasi wisata keluarga.

Data hotel baru mulai beroperasi di Bali kuartal 1/2017

Radisson BLU Bali Uluwati, bintang 4, Uluwatu

Alaya Jembawan, bintang 4, Ubud

Paramapada Jimbaran, bintang 4, Jimbaran

Aston Canggu Beach Resort, bintang 4, Canggu

Movenpick Resirt and Spa, bintang 5, Jimbaran

Rimba Jimbaran, bintang 5, Jimbaran

Hoshinoya, bintang lima, Ubud

Sumber: Colliers. 2017

Tag : hotel
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top