REI Pasok Rumah Singgah di 10 Kawasan Pariwisata Prioritas

REI mulai fokus menyasar pengembangan rumah singgah terjangkau dalam upaya percepatan pengembangan 10 kawasan pariwisata prioritas
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 18 Mei 2017  |  20:05 WIB
Mandalika di Lombok, NTB, salah satu kawasan pariwisata prioritas. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia mulai fokus menyasar pengembangan rumah singgah terjangkau dalam upaya percepatan pengembangan 10 kawasan pariwisata prioritas yang dicanangkan pemerintah. 

Ketua Umum Dewan Perwakilan Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan pihaknya akan memaksimalkan peran REI daerah untuk pembangunan proyek yang masuk dalam strategis nasional.

Dia menyebut saat ini sejumlah Dewan Perwakilan Daerah (DPD) REI sudah mulai membidik lahan potensial yang bisa dikembangkan proyek rumah singgah terjangkau bagi pelancong. Salah satunya REI Sulawesi untuk kawasan wisata Wakatobi.

“Selain itu kami masih selesaikan untuk konsep pengembangan di Mandalika dan selanjutnya pasti kami upaya kan akan masuk secara serentak dalam 10 destinasi prioritas tersebut,” katanya, Kamis (18/5/2017).

Menurut Eman, sapaan akrab Soelaeman, pengembangan rumah singgah terjangkau ini layaknya seperti mengembangkan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Untuk itu, selain memaksimallkan pembangunan pengembang daerah, pihaknya juga akan mengupayakan penyaluran dana tanggungjawa sosial perusahaan pengembang besar.

Eman tak berani menjanjikan jumlah pasti pembangunan rumah singgah hingga akhir tahun ini. Menurutnya, pengembangan konsep rumah singgah membutuhkan sejumlah kesiapan dan perhitungan yang matang bagi pengembang.

“Kalau pembangunan rumah MBR kami bisa targetkan 200.000 tahun ini, tetapi kalau homestay saya tak bisa janjikan pasti. REI hanya bisa pastikan bahwa akan memulai saat ini juga untuk membangun karena memang itulah fungsi garda terdepan pembangunan nasional,” ujar Eman.

Dirinya menuturkan prinsip pembangunan rumah singgah terjangkau yang akan REI bangun yakni akan melibatkan masyarakat penduduk lokal dan memiliki tarif yang semurah mungkin atau dibawah rerata tarif hotel ekonomis.

Pasar rumah singgah terjangkau ini, lanjutnya, akan menyasar wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang memiliki anggaran minimal tetapi ingin memiliki pengalaman yang maksimal akan kearifan lokal satu daerah.

Eman menilai ceruk pasar pelancong tersebut akan memperluas akses kunjungan masyarakat dari berbagai kelas untuk meramaikan industri pariwisata Indonesia.

“Kalau mereka wisatawan punya bujet liburan tinggi pasti memilih hotel mewah dan sejenisnya, makanya homestay hadir untuk menangkap pasar yang lain, jadi dapat dipastikan keberadaannya tidak akan mengancam industri hotel yang ada.”

Eman menuturkan setelah menekan kerjasama kontrak pengembangan rumah singgah terjangkau dengan Kementerian Pariwisata, ke depan pihaknya akan lebih detail merumuskan skema yang bisa dilakukan pengembangan. Baik dalam hal pembebasan lahan, pendanaan, hingga promosi.

Menurutnya, pengembang bergerak dalam industri riil yang harus memilki persiapan dan sasaran yang nyata dalam mengembangkan satu produk.

Sebelumnya, REI meneken kontrak kerja sama pengembangan rumah singgah terjangkau untuk 10 kawasan pariwisata prioritas bersama Kementerian Pariwisata. Dalam akta perjanjian tersebut tertulis jangka waktu kerja sama selama 3 tahun dan dapat diperpanjang atas persetujuan dua pihak.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun berkelakar agar REI berjanji memenuhi 1.000 unit rumah singgah terjangkau bagi wisatawan. Pembangunan tersebut diharapkan seiring dengan fokus REI menyediakan rumah bagi MBR dalam program strategis nasional perumahan sejuta rumah.

“Kalau target kami 20.000 unit, sejak October 2016 sampai sekarang sudah terbangun sekitar 2.000 unit dengan 400 yang siap beroperasi. Nanti saya imbau agar setiap unit homestay wajib menggunakan desain arsitek Nusantara,” katanya.

Rido Matari Ichwan, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menambahkan pihaknya juga terus fokus dengan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK berbasis industri pariwisata.

Pihaknya tengah menantikan kucuran dana segar dari Bank Dunia sebesar US$300 juta untuk pengembangan perencanaan dan infrastruktur dasar kawasan Mandalika, Danau Toba, dan Borobudur.

“Itu tiga destinasi prioritas pemerintah dalam waktu dekat mengingat di ketiga wilayah tersebut akan banyak digelar beragam kegiatan internasional. Dengan menjalin sinergi dengan pengembang, pemerintah lebih optimis menjadikan industri pariwisata Indonesia menjadi yang terbaik di dunia.”

Tag : pariwisata, perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top