Kepala Naga Jakarta Barat Masih Menggeliat

Kalangan praktisi bisnis properti menilai pasar perumahan di sejumlah titik di Jakarta Barat yang dikenal dengan kepala naga dinilai relatif positif.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 14 September 2017  |  13:52 WIB
Ilustrasi: Proses pembangunan perumahan mewah - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan praktisi bisnis properti menilai pasar perumahan di sejumlah titik di Jakarta Barat yang dikenal dengan kepala naga dinilai relatif positif, tidak terlalu terpengaruh dengan situasi politik yang sempat memanas pada tahun lalu akibat Pilkada DKI.

Berdasarkan data Rumah.com Property Index, median harga rumah kelas atas kisaran Rp1 miliar hingga Rp3 miliar di Jakarta Barat sempat mengalami kenaikan tipis pada kuartal I/2017 sebesar 1,39% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Country Manager Rumah.com, Wasudewan, mengatakan hal ini membuat harga rumah mencapai Rp20,28 juta per m2, tertinggi sejak 2015 di mana harga rata-rata stagnan di posisi Rp20 juta per m2.

“Meski tren kenaikan tipis hanya beberapa saat dan median harga rumah di Jakarta Barat pada kuartal dua tahun ini kembali bertahan di angka Rp20 juta, hal itu tidak mengurangi kepercayaan diri pengembang,” ungkapnya pada Kamis (14/9/2017).

Hal itu juga tergambar dari masih tingginya minat pengembang properti meluncurkan proyek perumahan maupun apartemen. Menurut catatan Colliers International Indonesia, diperkirakan ada 10 apartemen baru yang hadir di Jakarta Barat pada semester kedua tahun ini.

Jakarta Barat juga menarik minat pengembang asal China, China Communications Construction Group melalui anak usahanya PT China Harbour Jakarta Real Estate Development, yang telah memulai pembangunan Daan Mogot City.

Investasi yang dikucurkan pada tahap pertama untuk merealisasikan delapan menara di atas lahan 4 hektare sekitar Rp4 triliun.

General Manager Executive of China Communication Construction Group (CCCG) Sun Guang Yu menuturkan Indonesia sangat potensial untuk perumahan. Survei perusahaan itu menyebutkan hanya 8% warga Jakarta yang mempunyai hunian tempat atau tinggal di apartemen.

"Maka dari itu, peluang bisnis properti di Indonesia khususnya Jakarta masih memiliki prospek yang baik,”ungkapnya.

Sun menuturkan nantinya tiap menara akan dibangun 300 unit. Hinga Agustus lalu progres penjualan penuh telah diraup untuk dua menara pertama, yakni Albatros dan Bluefinch. Sedangkan Canary sudah lebih dari 55%. Perusahaan juga mulai membuka pemasaran untuk menara keempat atau yang diklaim sebagai terbaik yakni Dave.

Merry Lantani, Associate Director CitraGarden City Jakarta, juga mengatakan pasar properti segmen menengah atas di Jakarta Barat masih menggeliat. Pengembangan kawasan bandara memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan bisnis dan hunian di Jakarta Barat.

“Permintaan rumah, kavling, bahkan rukan (rumah kantor) terus meningkat, seiring dengan makin mudahnya aksesibilitas dari dan menuju kota mandiri tersebut. Dari 10.000 unit rumah terbangun, tingkat huniannya mencapai 90 persen,” ungkapnya.

Sebut saja salah satunya rencana proyek LRT koridor 4, yang bakal menghubungkan Puri Kembangan-Tanah Abang sepanjang 9,3 kilometer. Hal ini pun sudah tertuang dalam Peta Jaringan Kereta Perkotaan Jabodetabek 2020 milik Pemprov DKI Jakarta.

Menyoal sasaran konsumennya, Merry menambahkan sebagian besar masih penghuni dan pemilik ruko di CitraGarden City dan sekitarnya. Sejak dahulu mereka tinggal dari generasi ke generasi. yang banyak melakukan repeat order.

Saat ini memasuki triwulan ketiga, realisasi perjualan menunjukkan peningkatan. Perusahaan menawarkan harga rumah di CitraGarden City berkisar Rp2,5 miliar-Rp12 miliar perumahan.

“Kami turut memasarkan lahan kavling sudut dengan harga Rp13,5 juta per meter persegi. Kenaikan harga rumah dan ruko di sini rata-rata bisa menyentuh 10%per tahun. Kalau dalam situasi booming bisa sampai di atas 15%,” kata Merry.

Tag : properti
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top