Kinerja Kawasan Industri: Kelangkaan Lahan Jadi Isu Utama

Hingga semester II/2017, penjualan lahan industri mencatatkan kinerja positif dibandingkan tahun sebelumnya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 19 September 2017  |  20:15 WIB
Kawasan Industri Wijayakusuma di Semarang, Jawa Tengah - Bisnis.com/Pamuji Tri Nastiti

Bisnis.com, JAKARTA - Hingga semester II/2017, penjualan lahan industri mencatatkan kinerja positif dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi sejumlah pengembang besar kawasan industri masih menghadapi tantangan utama ketersedian lahan untuk dimanfaatkan dan siap bangun.

Akan tetapi, pelaku usaha masih merespons kinerja akhir tahun ini tetap positif.

Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto menuturkan sekitar 67% dari total penjualan tahun lalu terwujud selama semester I/2017.

Kondisi ini menunjukkan optimisme bahwa total penjualan lahan industri tahun ini bisa melampaui tahun lalu. Total penjualan yang tercatat pada triwulan II/2017 seluas 62,81 hektare dengan kontribusi dominan berasal dari penjualan di Bekasi yaitu sekitar 93%.

Meski demikian, Ferry menggarisbawahi ketersediaan lahan menjadi isu utama bagi beberapa pengembang kawasan industri termasuk Milenium di Tangerang.

Setelah melaporkan penjualan konsisten setiap kuartal, Milenium belum menjual 1 hektare lahan pun selama dua kuartal pertama tahun ini.

“Kawasan industri lainnya serta kawasan zonasi industri juga merupakan proyek lama dengan lahan yang sangat terbatas untuk dijual. Mirip dengan Tangerang, Bogor juga hanya memiliki dua kawasan industri yang tak begitu aktif dalam penjualan ataupun sewa lahan. Sejauh ini, kami belum pernah mendengar

tentang rencana ekspansi dari perusahaan yang ada ataupunmerencanakan proyek industri baru di wilayah itu,” katanya dari riset tertulisnya dikutip Selasa (19/9/2017).

Tentunya dengan keterbatasan lahan untuk ditawarkan, makavolume penjualan di kawasan ini cukup tertahan. Terutama jika berhadapan kepada pembeli dengan kebutuhan lahan yang besar.

Dibandingkan dengan kawasan industri lainnya, hampir semua pengembang aktif kawasan industri Karawang termasuk Suryacipta, KIIC, dan Kota Bukit Indah memiliki rencana untuk memperluas lahan mereka.

Suryacipta sejauh ini telah mengembangkan sekitar 100 hektare lahan, sedangkan KIIC tengah mempersiapkan perluasan hingga 160 hektare.Kota Bukit Indah kini bersiap untuk ekspansi lebih dari 100 hektare.

Sales Manager PT Modern Cikande Industrial Estate, Michael Adinata, mengatakan kondisi itu tak akan membuat perusahaan merevisi target penjualan tahun ini. Pihaknya masih optimistis dari total lahan 3.175 hektare, masih menyisakan 60% yang bisa dikembangkan untuk bisa dikejar pembebasan lahannya.

“Apalagi dalam waktu dekat kami masih akan mengantongi penjualan sekitar 25 ha lahan dari perusahaan plastik dan baja,” ungkapnya.

Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi yang belum cukup kuat, penjualan lahan di kawasan industri saat ini lebih dipotimalkan kepada penyewa yang telah eksisting. Selain itu, infrastruktur yang mapan akan lebih menarik bagi sebuah industri baru ketimbang membeli lahan di wilayah baru.

Sepanjang 2016, Modern Cikande mencatatkan penjualan lahan seluas total 28,5 hektare. Hasil ini menyusul kesuksesan prestasi 2 tahun sebelumnya, yaitu 2014 dan 2015, yang mencatatkan penjualan lahan tertinggi di Jabodetabek.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development, Tbk. Archied Noto Pradono mengatakan seiring dengan tingginya permintaan dan kebutuhan terhadap lahan industri di Ngoro Industrial Park pembebasan lahan terus dilakukan.

Saat ini dari lahan yang masih tersedia sekitar 90 ha, perusahaan hanya mengharapkan tambahan transaksi penjualan lahan pada tahun depan. Pasalnya tahun ini DILD berhasil memenuhi target penjualan lebih dari 20 ha.

DILD mengharapkan mampu menjual hingga 15 ha lahan kepada investor perusahaanyang bergerak di bidang produk konsumen tahun depan.

Target penjualan DILD tahun ini tercipta melalui PT Toyota Astra Motor (PT TAM) yang memulai pembangunan fasilitas logistik yang terpadu (integrated logistic facility) berkapasitas 6.500 kendaraan. Tujuannya tidak lain yakni untuk meningkatkan pelayan pasokan mobil baru dan suku cadang untuk pelanggan di Jawa Timur dan Bali.

Proyek kosntruksi integrated logistic facility tersebut dibangun di atas tanah seluas 20,3 hektare di kawasan Ngoro Industri Persada (NIP) Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

“Investasi ini menandakan sektor kawasan industri menunjukkan tren semakin membaik. Kami tentu menyambut baik kepercayaan investor untuk berinvestasi di NIP,” kata Archied.

Archied mengungkapkan nilai transaksi penjualan lahan industri NIP kepada TAM mencapai Rp 386 miliar.Selain dengan TAM, perseroan juga memasarkan lahan industri ke perusahaan domestik yang bergerak di bidang perabotan rumah tangga, seluas 2,7 hektare dengan nilai sekitar Rp50 miliar pada KuartalI/2017 pertama tahun ini.

NIP merupakan kawasan industri terpadu seluas 500 hektare. Berlokasi di Kecamatan Ngoro, Mojokerto, lokasi NIP dekat dengan akses ke pelabuhan Tanjung Perak dan Bandara Juanda, Surabaya. Kawasan industri telah ditetapkan sebagai salah satu objek vital nasional sektor industri yang dilengkapi dengan fasilitas pengolahan limbah terpadu dan jalur pipa gas alam.

 

Penyerapan Lahan Industri Kuartal II/2017

Greenland International Industrial Centre 36 ha

Bekasi Fajar 20 ha

Delta Silicon 2,18 ha

KIIC 2 ha

Modern Cikande 1,52 ha

Krakatau Industrial Estate Cilegon 0,5 ha

Jababeka 0,5 ha

Sumber: Colliers, 2017

Tag : kawasan industri
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top