Properti Cerdas adalah Properti Hijau

Pengembang sudah semestinya berperan aktif menciptakan kota berkelanjutan, karena realestat adalah kegiatan yang mengkonversi lahan terbuka menjadi perkerasan atau bangunan sekaligus memunculkan permukiman, pusat-pusat pertumbuhan, dan mobilitas baru.
Anitana Widya Puspa | 28 September 2017 16:28 WIB
Jakarta Smart City - Jakarta.go.id

Bisnis.com, JAKARTA— Pengembang sudah semestinya berperan aktif menciptakan kota berkelanjutan, karena realestat adalah kegiatan yang mengkonversi lahan terbuka menjadi perkerasan atau bangunan sekaligus memunculkan permukiman, pusat-pusat pertumbuhan, dan mobilitas baru.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata, pernah mengatakan kota cerdas bukan sekadar kota yang efisien, melainkan kota yang berkelanjutan (sustainable) yang tetap mampu memenuhi semua kebutuhan warganya generasi demi generasi.

Itu artinya kota yang dikembangkan dengan menghargai lingkungan (eco friendly) dengan atau tanpa digitalisasi. Dengan demikian kota tetap mampu memberikan penghidupan yang layak dan ramah bagi semua warganya tanpa menurunkan kualitas lingkungan hidup mikro dan makronya.

Emisi karbon adalah pemicu pemanasan global yang berdampak paling buruk terhadap lingkungan hidup. Penyebab utamanya, pemanfaatan energi dan konsumsi yang berlebihan yang meningkatkan konsentrasi gas karbon (CO2) dan metana di udara, sehingga hawa panas tidak bisa lepas ke atmosfir, tapi terperangkap dan dipantulkan kembali ke bumi.

Lautan dan tanaman (vegetasi) tidak mampu menetralkan kelebihan panas itu melalui proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, karena suhu lautan meningkat, hutan dan vegetasi kian habis. Kita sudah merasakan dampaknya hari-hari ini berupa peningkatan suhu udara, polusi dan sampah, cuaca yang tidak karuan dan sulit diprediksi, banjir, kekeringan, musim tanam yang kacau, gagal panen, dan makin sulitnya mendapatkan air bersih.

Arsitek lansekap dan pengamat properti hijau Nirwono Joga menambahkan realestat dikembangkan di perkotaan yang penduduknya padat tapi lahannya terbatas. Sementara urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) terus menderas sehingga tahun 2030 diperkirakan 66% penduduk dunia tinggal di kota.

Ada ambang batas penduduk dan daya dukung lingkungan yang harus selalu dikaji dalam setiap pengembangan proyek properti. Karena itu, bila pengembangan realestat tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan, kualitas kota dan kehidupan warganya akan memburuk, bahkan bisa chaos atau anarkis karena konflik perebutan sumber daya.

Seperti penataan ruang kawasan yang eco friendly dan tidak menabrak regulasi terkait, konsep desain bangunan yang berupaya mereduksi konsumsi energi dan air, infrastruktur yang mendukung gaya hidup hijau seperti banyaknya akses pejalan kaki dan pesepeda serta adanya sarana peresapan air dan sistem pengelolaan air bersih dan kotor, konektifitas atau pengintegrasian proyek dengan jalur transportasi umum, adanya sistem pengelolaan sampah sejak dari rumah, pengelolaan air di kawasan dengan konsep reduce-reuse-recycle, tersedianya ruang terbuka hijau yang memadai, dan adanya upaya konsisten melibatkan partisipasi warga untuk berbudaya hijau.

Tag : kota cerdas
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top