Pengembang Timur Tengah dan Singapura Bidik Indonesia

Investor asing, Pacific Star Development Limited, pengembang yang berfokus di ASEAN dan tercatat di Bursa Efek Singapura telah bermitra dengan DAMAC International, pengembang properti di Timur Tengah, untuk mengembangkan properti mewah di seluruh kota-kota utama di Asia Tenggara selama lima tahun ke depan.
Anitana Widya Puspa | 09 November 2017 23:38 WIB
Ilustrasi - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA  - Investor asing, Pacific Star Development Limited, pengembang yang berfokus di ASEAN dan tercatat di Bursa Efek Singapura telah bermitra dengan DAMAC International, pengembang properti di Timur Tengah, untuk mengembangkan properti mewah di seluruh kota-kota utama di Asia Tenggara selama lima tahun ke depan.

Lewat kemitraan ini, keduanya akan mengembangkan properti high-end di negara-negara ASEAN, dengan Malaysia dan Thailand sebagai pasar utama, diikuti oleh Vietnam, Indonesia dan Singapura.

Selanjutnya kedua pengembang ini juga akan berkolaborasi untuk mengidentifikasi lokasi utama di kota-kota gateway di mana mereka akan bersama-sama mengembangkan proyek perumahan, perhotelan dan ritel yang baru.

"Kami melihat spektrum peluang pembangunan yang luas dengan memanfaatkan urbanisasi di Asia Tenggara, demografi yang menguntungkan, dan peningkatan pariwisata," kata Glen Chan, CEO dan Managing Director PSDelalui keterangan resminya dikutip Kamis (9/11/2017).

PSD memiliki rekam jejak berstandar internasional di sektor real estate kelas atas serta pemahaman mendalam tentang pasar lokal. Selain itu, PSD akan memanfaatkan kemampuannya untuk mengamankan bidang tanah utama di Asia Tenggara dengan memanfaatkan jaringan rantai nilai yang telah terbangun di kawasan ini.

Kemitraan dengan DAMAC menjadi nilai tambah karena telah menunjukkan kepemimpinan dalam mengembangkan proyek kelas dunia, menciptakan strategi penjualan dan pemasaran yang inovatif dan mengoptimalkan pendekatan cost effective delivery.

DAMAC International merupakan bagian dari DAMAC Group, yang mengembangkan real estate mewah di Timur Tengah dan telah menyelesaikan lebih dari 19.000 unit di wilayah ini. Portofolio pengembangan DAMAC Group saat ini terdiri lebih dari 44.000 unit, termasuk 13.000 unit perhotelan, dalam berbagai tahap pembangunan.

Sementara itu Hussain Sajwani, Chairman DAMAC mengungkapkan kemitraan dengan PSD akan menciptakan peluang ekspansi yang signifikan dimana kedua pengembang dapat memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk menghadirkan produk real estate inovatif dan bernilai tinggi ke pasar baru di Asia Tenggara," kata

"DAMAC International telah menjadi salah satu pengembang paling sukses di Timur Tengah selama 15 tahun terakhir, dan kami bertujuan untuk memanfaatkan kemampuan ini ke pasar internasional dengan mitra terkemuka seperti PSD."

DAMAC Group memiliki portofolio pengembangan real estate yang beragam mencakup real estate bermerek, perhotelan dan serviced hotel apartments di Timur Tengah dan Inggris. DAMAC telah berhasil berkolaborasi dengan merek-merek global seperti The Trump Organization, Tiger Woods Design, Versace Home, Fendi Casa, Paramount Hotels & Resorts, Roberto Cavalli Group dan Bugatti untuk memberikan properti pemenang penghargaan selama 15 tahun terakhir.

Pengembang nasional menilai makin banyaknya developer asing yang masuk ke Indonesia tetap perlu menjadi perhatian supaya developer Indonesia tidak kalah bersaing di negeri sendiri.

Artadinata Djangkar, Direktur Ciputra Group, mengungkapkan kelebihan developer asing terletak dalam efisiensi kerjanya sehingga dengan kualitas produk yang kurang lebih sama, harga propertinya bisa lebih rendah.

Developer asing, imbuh Arta berani mengambil margin keuntungan yang lebih kecil dan didukung modal dengan biaya dana (cost of fund) yang sangat rendah, karena yang masuk ke Indonesia umumnya perusahaan-perusahaan besar dan raksasa dengan modal sangat kuat di negara asalnya.

"Karena itu ke depan funding strategymenjadi penting dengan misalnya mencoba mencari sumber-sumber dana alternatif yang lebih murah untuk pengembangan proyek untuk mengimbanginya,” katanya.

Artadinata pun mencontohkan dalam menggarap proyek Ciputra di China, pihaknya juga memyerahkan pembangunan kepada kontraktor lokal asal Tiongkok yang bukan tergolong perusahaan besar bahkan efisiensi kerjanya sangat cepat.

Meski demikian pengembang lokal juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki developer asing. Yaitu, lebih mengenal pasar dan punya akses tanah yang lebih bagus.

“Developer asing umumnya mendapatkan tanah untuk proyeknya dengan membeli di proyek-proyek yang dikembangkan developer Indonesia, sulit untuk bisa langsung membeli ke pemilik tanah mentah,” jelasnya.

Selain itu dengan adanya proteksi UU Ketenagakerjaan yang tidak mengizinkan pekerja asing level menengah ke bawah bebas masuk ke Indonesia juga telah mencegah adanya persaingan lebih lanjut.

Tag : properti
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top