Paramount Bakal Bangun Megaproyek Ikonik Setelah Tahun Politik

Paramount Land memastikan pengembangan lahan seluas 8 hektare di kawasan Slipi, Jakarta Pusat akan dimulai usai tahun politik 2019. Waktu tersebut dirasa paling realistis karena proyek ini akan digarap sebagai megaproyek ikonik.
Ipak Ayu H Nurcaya | 14 November 2017 19:28 WIB
Ilustrasi pembangunan apartemen - Antara/Audy Alwi

JAKARTA, Bisnis.com – Paramount Land memastikan pengembangan lahan seluas 8 hektare di kawasan Slipi, Jakarta Pusat akan dimulai usai tahun politik 2019. Waktu tersebut dirasa paling realistis karena proyek ini akan digarap sebagai megaproyek ikonik.
Associate Director Paramount Land M. Nawawi mengatakan tahun ini perusahaan masih menilai kondisi pasar properti belum seagresif yang diharapkan. Untuk itu, perusahaan masih berhati-hati dalam meluncurkan produk apalagi untuk megaproyek untuk masyarakat kelas atas.
"Di kawasan Slipi itu tanahnya sangat strategis jadi kami tidak mungkin sekadar membangun, ini akan jadi megaproyek yang bisa dijadikan ikon," katanya, Selasa (14/11).
Nawawi memastikan perusahaan akan mengembangkan kawasan terpadu baru di sana dengan mengintegrasikan sejumlah properti hunian, ruang perkantoran, ritel, dan lainnya.
Sementara itu, perusahaan pun masih terus melanjutkan pembangunan proyek di kawasan basisnya Gading Serpong, Banten. Dari total 2.400 hektate di sana, perusahaan baru menyelesaikan 800 hektarenya. Adapun kisaran harga lahan saat ini antara Rp10 juta sampai dengan Rp13 juta per m2.
Nawawi mengemukakan hingga kuartal III/2017 lalu, perusahaan telah mengantongi sekitar Rp1,4 triliun atau 70% dari target Rp2,1 triliun tahun ini. Menurutnya, angka tersebut sudah melalui revisi dari angka Rp3 triliun.
Adapun strategi perusahaan untuk mengejar terget tersebut yakni melakukan penjualan produk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dengan harga di bawah pasar. Strategi ini disebut perusahaan dengan istilah menarik kembali pasar yang hilang.
"Pasar yang kami maksud di sini adalah mereka yang sudah lama merindukan tinggal di kawasan Gading Serpong tetapi tidak memiliki anggaran tinggi. Sehingga kami melakukan pembebasan lahan di sekitar klaster untuk membangun rumah murah," ujar Nawawi.
Nawawi menyebut murah di Gading Serpong dibanderol dengan harga kisaran di bawah Rp1 miliar. Sehingga, pembangunan rumah segmen ini tidak seperti rumah sebelumnya yang dibangun lengkap dengan fasilitis mewah seperti kolam renang.
Ada tiga kluster yang sudah diluncurkan perusahaan pada April lalu yaitu Napoli, Amalpi Village dan Napona Village sebanyak 700 unit lebih dengan harga Rp 600 juta- Rp 700 juta. Namun, keseluruhannya sudah habis terjual sampai Agustus lalu.
Sementara proyek yang masih diharapkan dapat menambah nilai prapenjualan hingga akhir tahun yakni klaster Karillo dan dan Kalsena Square yaitu ruko dan kavling.
Karillo adalah proyek hunian dengan total 100 unit yang dijual dengan harga mulai Rp1 miliar dan saat ini sudah terkual 70%. Sementara Kalsena Square dirilis dengan harga mulai Rp2,9 miliar.
Nawawi menyebut fokus menyasar masyarakat yang membutuhkam tempat tinggal ini masih akan digencarkan hingga tahun depan. Sebab, perusahaan menilai tantangan dalam jangka pendek ini masih akan berat.
"Tahun depan terus kami rancang produk-produk inovatif apa yang bisa banyak diserap pasar," tuturnya.
Tak hanya itu, tahun depan Paramount juga akan memulai pengembangan proyek skala kota yang lokasinya masih dirahasikan dengan target lahan seluas 1.000 hektare. Dari total tersebut perusahaan baru membebaskan sekitar 600 hektare.

Tag : apartemen
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top