Bisnis Properti : Investor Global Masih Incar India

India masih menjadi peringkat pertama di pasar negara berkembang bagi investor pada 2018.
Anitana Widya Puspa | 06 Januari 2018 00:39 WIB
Bendera India - Cultural India

Bisnis.com, JAKARTA — Konsultan Properti Jones Lang LaSalle menyebut India masih menjadi peringkat pertama di pasar negara berkembang bagi investor pada 2018.

Seperti diketahui pada 2017, perusahaan – perusahaan besar menargetkan investasi real estate high-profile di India, seperti GIC Singapura membeli 33%saham di sebuah unit DLF Cyber City seharga US $ 1,4 miliar.

Selain itu anak perusahaan dari perusahaan asuransi global Allianz yang bergerak di sektor real estat juga mengumumkan kerjasamanya dengan perusahaan India, Sharpoorji Pallonji Group, untuk mengumpulkan dana senilai US$500 juta dengan menargetkan pasar perkantoran India.

Megan Walters, Head of Research, JLL Asia Pacifik mengatakan pada 2018, perkantoran level pertama dan sektor ritel India diproyeksi menghasilkan keuntungan tertinggi.

“Kami telah melihat akhir dari gangguan jangka pendek di India akibat reformasi seperti demonetisasi dan penerapan pajak barang dan jasa. 2018 mungkin merupakan tahun bagi para investor untuk mempertimbangkan langkah strategis masuk ke pasar India, dengan adanya fundamental jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi yang positif," katanya dikutip dari riset, Jumat (5/1/2018)

Sementara itu, imbuh dia, investor Asia akan melakukan investasi di luar Asia pada 2018 karena memiliki modal besar yang tidak dapat diserap pasar lokal.

Secara keseluruhan, investor dari Asia telah menghabiskan lebih dari US$26 miliar untuk properti di Amerika Serikat dan Eropa dalam tiga kuartal pertama 2017.

Megan juga melihat sektor alternatif akan menjadi pilihan bagi investor real estat. Investor kata dia akan mencari peluang alternatif pada sektor real estat seperti perawatan lanjut usia/rumah jompo, perumahan siswa, pendidikan, pusat data, dan fasilitas penyimpanan/gudang pribadi.

Hal itu bertujuan untuk variasi dalam portofolio mereka, serta untuk pertumbuhan jangka panjang.

"Kami mengamati adanya peningkatan ketertarikan dan peluang yang besar untuk pilihan alternatif dari real estat. Permintaan pada sektor-sektor ini telah melebihi dari ketersediaan pasok yang ada, dan permintaan dari segi demografis di wilayah tersebut telah berkembang dengan cepat,” imbuh Megan.

Hasil investasi dari fasilitas penyimpanan/gudang pribadi lebih menarik dibandingkan dengan kelas aset tradisional lainnya, berkisar dari 5%--7% di Tokyo dan Singapura, 5%--8% untuk Australia, dan sekitar 8% di China dan India.

Tag : india, bisnis properti
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top