Pembukaan Keran Ekspor Bahan Baku Furnitur Tak Menguntungkan

Himpunan Industri Mebel dan Kerjainan Indonesia (HIMKI) meyakini bahwa pemerintah tak akan merealisasikan wacana keran ekspor untuk bahan baku industri karena tak akan menguntungkan.
Anitana Widya Puspa | 10 Maret 2018 20:07 WIB
Pengunjung berada di salah satu stand pameran International Furniture Expo (IFEX) 2017 di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerjainan Indonesia (HIMKI) meyakini bahwa pemerintah tak akan merealisasikan wacana keran ekspor untuk bahan baku industri karena tak akan menguntungkan. 

Ketua HIMKI Soenoto menuturkan ekspor untuk bahan baku mebel, seperti kayu dan rotan. Menurutnya, wacana itu tidak akan menguntungkan karena tak memberi nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Memang ada beberapa wacana, tapi mungkin karena mereka kurang memahami. Saya yakin bahwa instansi pemerintah manapun kalau pemahamannya itu firm, komunikasinya sudah bagus, tidak akan ekspor bahan baku secara mentah-mentah. Karena itu hanya semangat instan. Ibaratnya kalau anda punya kangkung jangan dijual kangkungnya, tapi buat lotek atau gudegnya agar punya added value," katanya akhir pekan lalu. 
Menurut dia yang paling dibutuhkan saat ini adalah regulasi yang menyegarkan industri furnitur selain bantuam dana sponsor. Pasalnya,  kini industri ini diharapkan pada tantangan bersaing dengan negara-negara lain, termasuk Vietnam dan Filipina. 
Pelaku usaha kata dia sepakat bahwa masih ada sekitar 40 ribu lebih regulasi yang mengganggu dan rumit. Dia mencontohkan saat ini Penanaman Modal Asing (PMA) dalam imduatri asing,  tercatat ada 110 yang terlisenai.  Namun Aaa industri di Moro yang sekarang hengkang karena tidak betah larena  menghadapi perizinan yang ruwet. 
"Makanya saya ilustrasikan toh, kalau tidak bisa memberikan regulasi yang segar, please jangan berikan regulasi yang mengganggu, " imbuhnya. 
HIMKI pum mencatat nilai ekspor industri mebel pada 2017 mencapai US$ 2 miliar atau setara Rp 27 triliun. Angka ini meningkat US$ 400 juta dibandingkan nilai ekspor pada 2016 lalu yang hanya sebesar US$ 1,607 miliar.

Menurut Soenoto, ekspor mebel dari Indonesia meningkat karena tingginya penjualan ke berbagai negara di Eropa dan Amerika. Dia menyebutkan jika ekspor terbesar disumbangkan dari negara Belanda dan Jerman. 

Nilai ekpor ini kata dia dapat lebih baik lagi ke depannya jika didukung kementerian lainnya. Sebab, selama ini baru dua kementerian saja yang mendukung ekspor industri mebel, yakni Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. 

Sementara itu untuk tahun ini  Soenoto menargetkan International Furniture Expo (IFEX)  2018 dapat menggaet 12,5 ribu pengunjung dan pembeli yang terdiri dari delapan ribu warga lokal dan 4.500 warga negara asing.

Soenoto mengklaim, IFEX merupakan ekshibisi furnitur dan kerajinan terbesar di Asean. IFEX 2018 diikuti sekitar 500 pengrajin lokal dan internasional. Pameran IFEX 2018 berlangsung dari 9-12 Maret 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.

Tag : furnitur
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top