Properti Primer dan Sekunder Tumbuh Subur di Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu kawasan penyokong pasar properti di Indonesia selain Jakarta dan wilayah di sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Anitana Widya Puspa | 16 April 2018 17:43 WIB
perumahan

Bisnis.com, JAKARTA—Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu kawasan penyokong pasar properti di Indonesia selain Jakarta dan wilayah di sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi

Sebagai informasi, kenaikan Rumah.com Property Supply Index secara nasional pada kuartal IV/2017 disebabkan oleh pertumbuhan suplai di sejumlah kawasan. Terbesar dari Jawa Timur (39,4%), Jawa Barat (24,8%), dan DKI Jakarta (21,1%).

Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah Bank Indonesia Jawa Timur, Taufik Saleh, menuturkan baik properti residensial primer maupun sekunder di kawasan ini sama-sama menguat permintaannya.

“Untuk rumah primer penguatan dirasakan di semua segmen baik subsidi, menengah, maupun atas. Adapun rumah sekunder khusus untuk segmen menengah dan atas,”katanya dikutip dari riset tertulis Senin (16/4/2018).

Senada Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur mengungkapkan saat ini di Jawa Timur masih ada back log sekitar 670.000 rumah. Jumlah ini tumbuh sebagai imbas pada 2015 lalu bisnis properti tidak subur.

Namun Marine Novita, Country Manager Rumah.com mengemukakan dalam Rumah.com property index tren median harga apartemen di Jawa Timur terus merosot. di angka Rp15,29 juta per meter persegi maka pada kuartal selanjutnya terus turun. Bahkan pada kuartal I/2018 ini median harganya sudah menjadi Rp14,38 juta per meter persegi.

Fenomena ini juga terjadi di sejumlah kota-kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang. Meski turunnya tidak sedrastis Jawa Timur, berdasarkan data Rumah.com Property Index tren median harga apartemen di Surabaya juga mengalami penurunan.

Jika pada kuartal III/2016 median harga apartemen sempat menyentuh harga tertinggi hingga Rp15,32 juta per meter persegi, namun sampai dengan kuartal I/2018 median harganya juga terus terkikis hingga berada di angka Rp14,47 juta per meter persegi.

Padahal kata dia, Surabaya juga merupakan pintu dan jalur ekonomi bagi kawasan Indonesia timur.Para pebisnis dan pelajar dari kawasan Indonesia timur pun memilih berbisnis, bekerja, atau belajar di Surabaya. Hal ini semestinya membuat permintaan properti di Ibukota Jawa Timur ini terus meningkat,” katanya.

Menurutnya, banyak faktor yang membuat median harga apartemen di Jawa Timur seolah malas bergerak, selain faktor ekonomi nasional yang masih dalam masa pemulihan faktor situasi politik seperti akan digelarnya Pemilihan Umum Gubernur Jawa Timur pada 27 Juni 2018 membuat buyer bersikap wait and see.

Namun, berdasarkan siklus properti, pada 2018 ini, perputarannya mulai mengarah ke atas. Sinyalemennya, saat ini market mulai naik, pembangunan konstruksi naik, penjualan naik tipis, ditambah tren suku bunga yang rendah.

Pergerakan median harga apartemen di Malang bisa dibilang sedikit lebih baik bila dibandingkan Surabaya atau wilayah Jawa Timur secara keseluruhan. Jika pada kuartal Iv/2016 median harga apartemen di Malang sempat berada di titik terendah di angka Rp15 juta per meter persegi, namun di kuartal 1/2018 median harganya menjadi Rp16,31 juta per meter persegi.

Bahkan yang menarik, median harga apartemen di Malang sempat mencatat angka tertinggi yang cukup fantastis pada kuartalI,2017 hingga Rp21,43 juta per meter persegi.

Tag : bisnis properti
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top