Keberhasilan TOD Butuh Integrasi AntarModa

Upaya mengajak warga beralih ke angkutan umum akan semakin efektif tergantung dengan jaringan pada simpul dan daerah pelayanan dalam kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 19 April 2018  |  18:37 WIB
Pembangunan proyek kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) di Pintu M1 Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA— Upaya mengajak warga beralih ke angkutan umum akan semakin efektif tergantung dengan jaringan pada simpul dan daerah pelayanan dalam kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan sedikit banyaknya jumlah masyarakat yang beralih tergantung jumlah penduduk dan wilayah yang dilayani. Apalagi kata dia TOD seharusnya dapat mengintegrasikan antarmoda. Menurutnya jika ini bisa diwujudkan, tentu akan semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan angkutan umum,

“Kemungkinan yang berpindah dengan adanya TOD ini kita anggap saja sekitar 20% sampai 30% dari perjalanan warga Jabodetabek yang mencapai 50 juta perjalanan,” katanya Kamis (19/4).

Yayat menekankan jika TOD dikembangkan di daerah pinggiran atau daerah penyangga ibukota yang arahnya ke dalam kota, hal itu dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, selama sarana yang disediakan menjamin kenyamanan.

Saat ini, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik DKI Jakarta tahun 2015, jumlah kendaraan pribadi di DKI Jakarta lebih dari 18,6 juta unit. Pengguna angkutan umum di Ibu kota baru mencapai 24%, sedangkan pergerakan orang di Jabodetabek mencapai 47,5 juta hingga 50 juta orang.

Setiap hari, ada 1,4 juta pelaju dari daerah sekitar Ibu Kota. Kecenderungan perluasan di wilayah Jabodetabek yang pesat, secara signifikan meningkatkan biaya transportasi, mengurangi tingkat mobilitas, dan menurunkan kualitas hidup.

Setelah memulai ujicoba ganjil-genap jalan tol, pemerintah berencana mengembangkan 47 kawasan berorientasi transit (TOD) di Jabodetabek, sebagai salah satu upaya jangka panjang menekan penggunaan kendaraan pribadi. Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap masyarakat beralih ke angkutan massal seperti Transjakarta, Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), dan sebagainya

Pemerintah pun telah menargetkan 1,2 juta orang akan berpindah dari kendaraan pribadi jika kereta ringan (LRT) sudah beroperasi. Menurut Yayat, hal itu bisa saja terjadi jika sarana dan prasarana pendukung seperti ruang tunggu, terminal dan akses untuk mencapainya mudah dan nyaman.

Tag : transit oriented development
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top