Emiten Properti: Kuartal I, Penjualan Apartemen Membaik

Kinerja penjualan properti khususnya apartemen sejumlah emiten pada kuartal pertama tahun ini meningkat cukup signifikan, menandai cukup baiknya kinerja bisnis properti di awal tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 17 Mei 2018 20:50 WIB
Ilustrasi pembangunan apartemen - Antara/Audy Alwi

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja penjualan properti khususnya apartemen sejumlah emiten pada kuartal pertama tahun ini meningkat cukup signifikan, menandai cukup baiknya kinerja bisnis properti di awal tahun ini.

Dari 9 emiten properti pemain bisnis apartemen yang telah merilis kinerja keuangannya, hanya dua emiten yang membukukan penurunan pendapatan, yakni PT Cowell Development Tbk. (COWL) dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA), masing-masing turun 2,26% dan 2,52%. (Lihat tabel).

Sementara itu, lima emiten berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit. PT Intiland Development Tbk. (DILD) mencatatkan kinerja terbaik, dengan pertumbuhan pendapatan hingga 77,88%.

Meski begitu, di segmen penjualan apartemen, kinerja DILD bukanlah yang terbaik. PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) tampil unggul, baik secara nilai penjualan maupun tingkat pertumbuhan.

Penjualan apartemen APLN tumbuh 78,61% menjadi Rp860 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp482 miliar.

Indra W. Antono, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land, mengatakan bahwa penjualan perseroan tetap tumbuh karena perseroan memiliki pelanggan setia yang percaya pada kualitas produk dan kepastian penyelesaian proyek perseroan.

Beberapa pelanggan dari proyek reklamasi juga ada yang memutuskan mengganti pemesanan properti mereka dari proyek reklamasi ke proyek-proyek lain yang dimiliki APLN. Meski begitu, sekitar 75% pelanggan masih memutuskan bertahan dan menunggu lelanjutan reklamasi.

“Apartemen belum slow down, masih bagus. Walaupun ekonomi melambat, penjualan apartemen kami di Cimanggis, misalnya, jalan terus penjualannya,” katanya belum lama ini.

Menyusul setelah APLN yakni PT PP Properti Tbk. (PPRO) dengan tingkat pertumbuhan 13,39% dan nilai penjualan Rp610 miliar. PPRO tetap bisa memenangkan pasar karena apartemen perseroan selama ini banyak menyasar lokasi-lokasi strategis dekat kampus dengan novasi unik dan harga terjangkau.

Sayangnya, tidak semua emiten sudah dapat menikmati peningkatan penjualan apartemen di kuartal pertama tahun ini. Di antara 9 emiten, ada 4 emiten yang mencatatkan penurunan penjualan apartemen.

COWL menjadi yang terburuk dengan penurunan 72,15% menjadi hanya Rp19 miliar. Menyusul setelahnya yakni PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) yang turun 15% menjadi Rp145 miliar.

Berbeda dibandingkan COWL yang memang secara umum kinerja pendapatannya melemah, total pendapatan CTRA sejatinya masih tumbuh 6,83%. Namun, pendapatan perseroan lebih banyak ditopang bisnis hunian tapak dan ruko serta penjualan kantor.

Sementara itu, PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) dan PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI) membukukan penurunan penjualan apartemen yang relatif tipis, masing-masing turun 0,5% dan 4,32%.

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, mengungkapkan bahwa peningkatan kinerja DILD pada awal tahun ini lebih banyak disumbangkan dari kawasan perumahan. Meski begitu, penjualan mixed use & high rise menyumbang cukup besar, yakni 28% dari total pendapatan senilai Rp197,4 miliar.

Perlu diketahui, nilai penjualan apartemen yang dibukukan emiten pada kuartal pertama tahun ini tidak mencerminkan kinerja penjualan pada kuartal ini, melainkan pada kuartal-kuartal sebelumnya. Hal tersebut erat berkaitan dengan peraturan akuntansi properti.

Archied mengatakan, penjualan apartemen perseroan pada kuartal pertama tahun ini cukup baik, tetapi belum dapat sepenuhnya dibukukan karena peraturan akuntansi mensyaratkan adanya realisasi pembangunan terlebih dahulu.

“Kinerja penjualan Intiland di triwulan pertama tahun ini cukup bagus dengan membukukan marketing sales Rp966 miliar. Namun hasil penjualan tersebut, khususnya dari segmen mixed use & high rise belum bisa dibukukan sebagai pendapatan usaha, karena menunggu progres pembangunan,” kata Archied.

Ferry Salanto, Associate Director Colliers International Indonesia, mengatakan bahwa secara umum, kinerja riil dari aktivitas pemasaran dan pembangunan apartemen pada kuartal pertama tahun ini belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Khususnya di Jakarta, pasar apartemen masih ditandai berlebihnya pasokan dan masih rendahnya tingkat serapan.

“Kami menilai, pasar properti Indonesia akan terstabilisasi, tetapi pemulihannya akan lambat hingga 2019,” katanya.

Richardson Raymond, Analis Sinarmas Sekuritas, mengatakan bahwa meski ada gejala pemulihan sejak semester kedua tahun lalu, tetapi pasar properti belum bisa berharap terlalu banyak khususnya di semester kedua tahun ini.

Sejumlah faktor yang mungkin akan menghambat yakni ketegangan politik akibat pilkada dan pilpres, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari yang diharapkan.

“Kami memperkirakan kinerja pemasaran akan cenderung datar atau melemah setelah 2018 karena sikat wait and see dan timeframe yang lebih lambat bagi pengembang untuk meluncurkan produk baru,” katanya.

Tag : properti, apartemen
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top