Kala Sektor Perkantoran Masih Tertekan

Bisnis perkantoran dalam beberapa tahun terakhir masih belum lepas dari kondisi yang menantang.
Finna U. Ulfah | 03 September 2018 19:34 WIB
Deretan gedung perkantoran dan apartemen terlihat di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (6/4). - Antara/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis perkantoran dalam beberapa tahun terakhir masih belum lepas dari kondisi yang menantang.

Tingkat keterisian yang tidak kian berada di jalur hijau semakin membuat resah pengembang dan pemilik gedung.

Berdasarkan data Savills Indonesia, permintaan perkantoran pada semester I/2018 masih tergolong rendah yaitu hanya sebanyak 30.000 meter persegi.

Kepala Departemen Riset Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan angka tersebut sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan pada tahun booming yang bisa mencapai angka permintaan 400.000 meter persegi per tahun.

"Kalau nanti pada semester dua, permintaan masih sama angkanya yaitu 30.000 meter persegi maka dalam satu tahun hanya ada permintaan sebanyak 60.000, perbedaan itu sangat jauh sekali," ujar Anton di Jakarta, belum lama ini.

Untuk kawasan sentral bisnis (CBD), perkantoran memiliki pasokan yang semakin banyak yaitu sebanyak 600.000 meter persegi yang akan masuk pasar dan proyeksi pada tahun depan akan masuk sebanyak 400.000 meter persegi.

Namun, Anton mengatakan jumlah pasokan kantor yang masuk tidak didorong dengan permintaan yang kalah cepat hadir sehingga tingkat kekosongan akan semakin bertambah sampai dengan 30%.

Kehadiran coworking space yang agresif masuk ke perkantoran pun dinilai belum mampu menurunkan tingkat kekosongan ke batas aman.

Meski demikian, kondisi seperti ini bisa dimanfaatkan oleh penyewa untuk melakukan negoisasi untuk menekan harga sewa kantor kepada pemilik gedung.

Pada semester I/2018 perkantoran di CBD mengalami penurunan  harga sewa di semua kelas dengan rata-rata penurunan mencapai 3,6% menjadi Rp205.000 per meter persegi. Perkantoran kelas A mengalami kemerosotan harga sewa terbesar yaitu turun mencapai 8,8% year on year.

Sementara itu, perkantoran di kawasan non-CBD juga tidak menunjukan rapot yang bagus pada semester I/2018 dan masih cenderung merangkak.

Kawasan non-CBD seperti masih dalam tahap pemulihan akibat dari pasokan yang berlimpah sehingga belum ada pasokan perkantoran yang baru selama semester I/2018.

Jumlah permintaan yang tinggi bersamaan dengan pasokan yang terbatas sehingga membuat tingkat kekosongan di kawasan non CBD turun menjadi 22,3% berbeda dengan tingkat kekosongan pada periode yang sama pada tahun lalu mencapai 22,7%.

Dengan demikian, tidak adanya pasokan baru dan tingkat kekosongan yang terbatas sehingga harga sewa di kawasan non-CBD relatif stabil berada pada harga sewa Rp127.000 per meter persegi.

Jika menarik waktu ke belakang, kondisi tekanan pada sektor perkantoran bermula pada 2014 dengan merosotnya kinerja industri minyak dan gas bumi sehingga menyebabkan pengurangan sewa perkantoran bagi pekerja industri sektor tersebut.

Pekerja industri tersebut menarik diri dari sewa perkantoran sehingga tingkat kekosongan meningkat tajam pada kala itu.

Sejak peristiwa tersebut pertumbuhan tahun ke tahun pada sektor perkantoran tidak menunjukan pertumbuhan yang signifikan.

Hal tersebut menunjukan perkembangan perkantoran berkaitan dekat dengan kondisi pertumbuhan bisnis penyewa.

"Permintaan masih akan kurang, karena ekspansi bisnis dari penyewa juga tidak banyak sehingga begitu-begitu saja perkembangannya," ujar Anton.

Selama kondisi ekonomi Indonesia belum mampu mendorong ekspansi bisnis penyewa maka pertumbuhan sektor perkantoran juga tidak akan berubah banyak dan kembali menjadi normal.

Tag : ruang kantor
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top