Pengembang Kakap Adu Cepat Akuisisi Lahan

Kendati bisnis properti hingga kini dinilai masih belum membaik, sejumlah pengembang berani melakukan ekspansi lahan dengan menambah bank tanah mereka hingga ribuan hektare.
Anitana W. Puspa/Ana Noviani | 07 September 2018 11:59 WIB
Ekspansi lahan sejumlah pengembang besar dan kinerja emiten properti. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA—Kendati bisnis properti hingga kini dinilai masih belum membaik, sejumlah pengembang berani melakukan ekspansi lahan dengan menambah bank tanah mereka hingga ribuan hektare.

Ekspansi lahan oleh pengembang kelas kakap menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (7/9/2018). Berikut laporannya.

Aksi akuisisi lahan berukuran jumbo yang dilakukan sejumlah emiten seperti PT Hanson International Tbk (MYRX), Grup Ciputra (CTRA), serta sejumlah emiten lainnya PT MNC Land Tbk. (KPIG), PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) hingga PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA), merupakan langkah tepat untuk proyek jangka panjang, sehingga dapat mendorong kinerja perusahaan nantinya.

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan menyampaikan, sejatinya lahan merupakan bahan baku bagi emiten properti. Kendati kondisi pasar masih belum bergairah, perusahaan tetap perlu menambah lahan untuk proyeknya jangka panjang.

“Walaupun kondisi saat ini masih berat, akuisisi lahan bertujuan untuk jangka panjang,” tuturnya, Kamis (6/9/2018).

Hanson International diketahui membidik 15.000 hektare dalam 2 tahun guna mengembangkan proyek Grand Jakarta dengan wilayah dari Serpong hingga Maja, Banten.

Perusahaan besutan Benny Tjokropsaputro ini juga berniat membangun akses jalan tol Serpong sampai Maja. Guna mewujudkan cita-cita itu, Benny telah merencanakan sejumlah strategi pendanaan dari initial public offering anak usaha sampai rights issue Rp20 triliun.

Benny yang menjabat Komisaris utama MYRX mengatakan pihaknya telah menggenggam 4.700 ha lahan sehingga menargetkan dalam 2 tahun ke depan, bakal mengakuisisi lahan 10.000 ha.

“Di dunia properti itu big is beautiful, lebih besar lebih bagus. Ini adalah gabungan realestat terbesar dari Serpong sampai Maja. Luas proyek itu dua kali kota Bandung dan tiga kalinya BSD,” katanya kepada Bisnis, pekan ini.

Menurutnya, lahan dan skala proyek yang lebih besar bisa mengakomodasi segala segmen pasar, nilai jualnya semakin tinggi dan imbasnya pendapatan pengembang juga tinggi. Apalagi penduduk di Jakarta sudah lebih dari 30 juta penduduk.

Dia mencontohkan Serpong yang dibangun oleh banyak pengembang selama 25 tahun terus berkembang pesat.

Dengan demikian, menurutnya bukanlah sesuatu yang ambisius untuk menciptakan hunian baru yang juga bisa mengurai kepadatan Jakarta dan berdampak pada kegiatan ekonomi.

“Kalau bikin gedung itu mungkin banyak, bikin klaster realestat banyak, tapi kalau bikin kota itu nggak banyak , bahkan tergolong murah. Jadi itu biasa aja nggak ambisi amat,” tutur Benny.

Sementara itu Ciputra Grup saat ini memiliki 4 proyek besar (dari segi luasan) yang sedang digarap, yaitu CitraRaya Tangerang, CitraLand Surabaya, CitraMaja Raya dan CitraIndah Jonggol. Adapun masing-masing memiliki luasan 2.000 ha, 2.500 ha, 2.500 ha dan 1.000 ha.

Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi mengatakan dari sejumlah proyek itu hanya CitraMaja Raya yang lahannya kerja sama, sedangkan 3 proyek lainnya semua milik Ciputra. Menurutnya, tidak ada bedanya antara lahan hasil kerja sama ataupun milik sendiri, mengingat kerja sama itu berarti lahan dimiliki bersama berdasarkan kontraktual.

Menurut Harun, proyek besar tentunya memberikan keleluasaan bagi pengembang untuk mengembangkan berbagai fasilitas dan segmen lebih lengkap. Berbeda dengan lahan yang kecil, maka perusahaan harus lebih jeli menyasar segmen pasar tertentu.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, emiten lainnya seperti PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) dan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) juga berencana menambah lahan baru sampai akhir 2018.

Olivia Surodjo, Direktur Metropolitan Land, mengatakan bahwa dari total belanja modal yang telah dikucurkan senilai Rp330 miliar pada semester I/2018, sebesar Rp177 miliar di antaranya adalah untuk akuisisi lahan.Penambahan cadangan lahan tahun ini mayoritas adalah di daerah baru yang akan menjadi proyek masa depan perseroan.

Perseroan masih merahasiakan lokasinya sebab pengembangannya pun belum akan dimulai dalam waktu dekat, tetapi menunggu hingga akuisisi rampung. “Kami sudah akuisisi lahan di situ total dari tahun lalu sampai sekarang sudah 170 hektare,” katanya.

Selain akuisisi lahan di lokasi baru, perseroan juga menambah lahan sekitar 20 hektare hingga 30 hektare di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Kini, total cadangan lahan perseroan dari 7 proyek yang sudah ada mencapai 640 hektare. Bila ditambah dengan lahan di proyek baru tadi, totalnya lebih dari 800 hektare.

Adapun, Erlin Budiman, Head of Investor Relation Surya Semesta Internusa, mengatakan bahwa perseroan masih mempertahankan target akuisisi lahan di Subang tahun ini seluas 260 hektare. Realisasi sampai dengan Agustus 2018 mencapai 150 hektare.

“Subang saat ini sudah berhasil kami akuisisi 1.000 hektare. Targetnya 2018 tambah 260 hektare,” katanya.

Perseroan sudah mengucurkan belanja modal Rp265 miliar yang sebagian besar untuk akuisisi lahan di Subang. Pada 2018, manajemen menganggarkan belanja modal senilai Rp750 miliar hingga R800 miliar sehingga masih memiliki kecukupan dana untuk melanjutkan akuisisi.

PENDANAAN

Di sisi lain, Alfred Nainggolan menilai perusahaan tentunya harus memiliki strategi pendanaan yang tepat, di samping menyiapkan perencanaan pengembangan.

Opsi pendanaan dari ekuitas, sambung Alfred, perlu dipertimbangkan dengan hati-hati agar belanja operasional dan modal kerja lainnya tidak terganggu.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2018, ekuitas CTRA sebesar Rp15,46 triliun, KPIG Rp12,36 triliun, dan MYRX Rp7,87 triliun.

Pinjaman perbankan juga masih menjadi pilihan menarik bagi emiten. Pasalnya, suku bunga acuan BI diperkirakan tidak naik lagi pada 2018, sehingga bunga kredit masih terjangkau.

Adapun, pencarian dana melalui pasar modal seperti IPO atau rights issue diperkirakan tidak akan berjalan mulus, kecuali emiten sudah memiliki pembeli siaga yang siap menyerap saham baru. Langkah IPO juga menunjukkan emiten memercayai anak usahanya berkembang secara mandiri.

Soal penggunaan ekuitas, Harun Hajadi mengamininya. Dia menyebutkan selama ini perusahaan mempunyai kebijakan bahwa akuisisi lahan dilakukan dengan ekuitas. Tujuannya adalah untuk menurunkan risiko bisnis.

Menurutnya, pinjaman perbankan cukup berisiko, meskipun aturan BI telah kembali membolehkan pinjaman perbankan untuk kepentingan akuisisi lahan. “Makanya kami harus konservatif.”

Tag : properti
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top