KENAIKAN PPH IMPOR: Bisnis Furnitur dan Kitchen Terdampak

Menyusul kenaikan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas sejumlah barang impor, sejumlah pelaku usaha furnitur dan material untuk bangunan berusaha mempertahankan harga agar tidak menyulitkan konsumen.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 09 September 2018 20:38 WIB
Furniture Fabelio - dokumentasi

Bisnis.com, JAKARTA – Menyusul kenaikan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas sejumlah barang impor, sejumlah pelaku usaha furnitur dan material untuk bangunan berusaha mempertahankan harga agar tidak menyulitkan konsumen.

Sales and Brand Manager Kitchen Wardrobe Vivere Multi Kreasi, Vina Permatasari menyatakan Vivere adalah salah satu merek furnitur lokal namun 100% dari material kitchen wardrobe masih bahan impor.

“Material kita semua masih impor, tetapi kita brand lokal. Divisi kitchen wardrobe ini masih impor semua, namun untuk bahan dasar kita kerjakan dan rakit di sini. Kalau dirakit di luar bisa terkena pajak barang mewah,” terang Vina di ICE BSD, JUmat (7/9/2018).

Dia mengungkapkan, efek pelemahan rupiah pada pekan lalu yang berimbas dengan kebijakan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 belum banyak berpengaruh pada produksi furniture. Namun untuk mengatasi dampak dalam beberapa pekan dan bulan ke depan, perusahaan akan mengusahakan tidak adanya kenaikan harga furnitur.

“Ini belum berpengaruh. Harganya tetap begitu. Kalaupun ada kenaikan itu masih wajar karena banyak klien closing di akhir tahun, dan masih terkena harga akhir tahun. Toh juga setiap tahun ada kenaikan harga didorong inflasi,” papar Vina.

Sementara itu, Sales Associate Director LIXIL Housing Technology, Hiendriyanto Go menyatakan, LIXIL adalah perusahaan produksi jendela dan pintu aluminum asal Jepang. Dia menyatakan produksi kaca perusahaan berasal dari pabrik dalam negeri.

Sementara untuk alumunium bingkai jendela dan pintu masih impor dari luar. Dia mengakui, kebijakan menaikkan PPh Pasal 22 ini akan membebani biaya produksi. Imbasnya, harga produk jendela dan aluminum ini berpotensi mengalami kenaikan.

“Kenaikan Pph impor ini jelas terdampak. Karena marketnya tumbuh kami bangun pabrik disini supaya waktu pengiriman ke konsumen lebih cepat, dan biaya produksinya lebih murah. Kita memang mencoba menumbuhkan marketnya,” tutur Hiendriyanto.

Dia menjelaskan pengaruh ini disebabkan tingginya dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh Rp15.000. Dia berharap agar rupiah membaik dalam pekan ini sehingga bisa memperbaiki harga rawa material.

“Pabrikasi kami di Cikarang cukup besar. Karena yang kami jual ini yang sudah jadi, kami produksi finished good ini disini, dan pre fabrikasi juga disini. Di laur hanya raw material stick saja,” tutur Hiendriyanto.

Tag : furnitur
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top