Konsep Hunian ‘Smart Living’ Jepang Mulai Menjadi Tren

Tren Jepang mulai merebak ke semua aspek, termasuk properti. Pengembang mulai mengembangkan hunian dengan konsep smart living seperti di Jepang.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 16 September 2018  |  20:21 WIB
Hunian berkonsep smart living' - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Tren Jepang mulai merebak ke semua aspek, termasuk properti.  Pengembang mulai mengembangkan hunian dengan konsep smart living seperti di Jepang.

Salah satunya adalah Savasa di Cikarang, proyek yang dikembangkan oleh PT PanaHome Deltamas Indonesia (PHDI), perusahaan joint venture dari PT Puradelta Lestari Tbk yang merupakan anak perusahaan Sinar Mas Land dan PT Panasonic Homes Gobel Indonesia.

Wulang Nur Dwiyatmoko, General Manager PT Panahome Deltamas Indonesia, mengatakan proyek Savasa ini mengadopsi konsep hunian smart living Jepang yang mengedepankan kenyamanan dan keamanan. 4 konsep dasar pengembangan Savasa, yaitu smart township, smart security, smart home, dan smart community.

Dia menjelaskan Savasa menggunakan teknologi powertech yang sudah sesuai standar konstruksi tahan gempa dan puretech, sistem penyaring udara dan ventilasi yang meningkatkan sirkulasi udara sehingga menjadikan rumah lebih sejuk dan sehat.

Proyek Savasa ini memaksimalkan penggunaan energi alami, jelas Wulang, sehingga dapat menghemat energi.  Sistem smart town juga di lengkapi dengan jaringan CCTV dan sensor perbatasan yang dipasang untuk meningkatkan keamanan. Tersedia juga sistem pemantauan rumah yang memungkinkan pemilik rumah memeriksa melalui smartphone.

PHDI menargetkan masyarakat lokal dalam penjualannya. Meskipun banyak perusahaan Jepang dan ekspatriat asal Jepang di kawasan Cikarang,

Wulang menilai pasar bagi masyarakat lokal memiliki potensi yang kuat. Proyek pengembangan Savasa sudah direncanakan dan sudah dilakukan riset sejak 3 tahun yang lalu, diperkirakan akan rampung sekitar 3 hingga 4 tahun ke depan.

“Investasi yang kami rencanakan bukan jangka pendek, melainkan jangka panjang. Meskipun banyak perusahaan dan ekspatriat Jepang dan banyak penawaran dari perusahaan Jepang untuk membeli dan dijadikan rumah dinas, target utama kami adalah masyarakat local,” Kata Wulang pada Sabtu (15/09/2018).

Dengan total area seluas 37 hektar, PHDI telah mengucurkan investasi dana sebesar Rp360 miliar untuk pembelian dan pengembangan lahan pada tahap pertama.

“Tahap awal dimulai dengan dana Rp360 miliar, penambahan modal tergantung apakah nantinya [konsep smart living] banyak diterima masyarakat atau tidak,” kata Kazuhiko Tanaka, President Director PT PanaHome Deltamas Indonesia (PHDI) dan President Director PT Panasonic Homes Gobel Indonesia pada Sabtu (15/09/2018).

Wulang menambahkan pembangunan Savasa akan dibagi menjadi 3 tahap dengan total 4 klaster (Asa, Niwa, Hana, dan Yuta). Pembangunan pertama yaitu klaster Asa akan dibangun dengan lahan seluas 13 hektare yang terdiri dari 811 rumah dan 33 ruko. Ada dua tipe rumah, dengan masing-masingnya seluas 66 m2 dan 64 m2, Kisaran harga tipe A dimulai dari Rp978 juta, sedangkan tipe B berkisar Rp1.2 miliar.

Konsultan Desain Francis Surjaseputra menilai ada potensi yang besar masyarakat akan tertarik dengan hunian konsep Jepang mengingat permintaan pasar untuk hunian konsep Jepang meningkat.

“Tren ini sudah dimulai sejak 3 tahun yang lalu. Hal ini juga dipengaruhi oleh permintaan pasar untuk bisa memiliki rumah dengan konsep Jepang,” kata Francis kepada Bisnis belum lama ini.

Dia menjelaskan hunian dengan konsep Jepang memang kompleks. Konsep yang dijual tidak menitikberatkan pada desain, tetapi image Jepang dengan lingkungan yang aman, bersih dan lebih kealam.

Francis juga menilai konsep hunian Jepang lebih menyasar ke masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan juga akan menarik minat ekspatriat. Pengembang memiliki pandangan lain mengapa konsep Jepang yang dikembangkan.

 

Tag : properti
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup