Pasar Perumahan Untuk Milenial Semakin Prospektif

Generasi milenial dipandang sebagai pasar yang cukup besar dan prospektif. Namun, belum banyak milenial berpikir untuk membeli properti.
Maria Elena | 22 November 2018 16:39 WIB
Maket perumahan di sebuah kantor pemasaran developer properti. - jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Generasi milenial dipandang sebagai pasar yang cukup besar dan prospektif. Namun, belum banyak milenial berpikir untuk membeli properti.

Sekjen DPP Asosiasi Pengembang Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lucida menilai properti merupakan salah satu sektor industri yang masih terus menggeliat dan pasar yang cukup potensial adalah para generasi milenial. "Generasi milenial memiliki potensi yang cukup besar dan sangat prospektif di pasar properti," papar Totok.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020 generasi milenial akan mencapai 35% dari total populasi rakyat Indonesia atau sebanyak 75 juta jiwa.

Totok mengatakan sebenarnya banyak milenial yang sudah memiliki kemampuan untuk membeli properti. Apalagi dengan banyak kemudahan yang diberikan, seperti cicilan yang terjangkau, mereka sudah bisa memillki rumah yang layak huni, baik sebagai tempat tinggal ataupun untuk investasi.

Senada dengan hal itu, General Manager Sales Rumah123 Maria Herawati Manik mengatakan generasi milenial merupakan pasar yang menjanjikan karena mereka adalah pembeli rumah terbanyak atau disebut first home buyer.

"Kami melihat peluang milenial cukup banyak. Berbeda dengan pembeli investor kalau sudah beli rumah tidak mungkin beli terus-terusan, mereka ada kapasitasnya," kata Maria.

Namun, Maria menilai masih cukup banyak milenial yang saat ini belum memikirkan bahkan belum terpikirkan untuk membeli rumah. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan banyak orang muda yang masih tinggal di rumah orang tua atau tinggal di rumah warisan. Selain itu, ketika memikirkan untuk membeli rumah, milenial akan mempertimbangkan lokasi.

"Milenial kadang mempertimbangkan lokasi, itu penting karena mereka bekerja sehingga pola berpikirnya jangan jauh-jauh dari kota, sedangkan rumah yang tidak jauh dari kota harga yang ditawarkan pasti lebih mahal," papar dia.

Alasan itulah yang membuat milenial ragu sehingga akan berpikir ulang apakah sanggup atau tidak membeli rumah. Sementara itu, lanjutnya, ada juga milenial yang mau membeli rumah, namun masih wait end see karena tahun pemilu. 

Mereka yang wait and see karena mengandalkan infrastruktur. Milenial akan berpikir jika kepemimpinan berganti, apakah proyek infrastruktur akan berlanjut atau tidak, jadi alasan tersebut dapat membuat mereka menahan membeli properti.

Oleh karena itu, Maria mengatakan perlu edukasi untuk milenial dan rumah123 akan terus mengedukasi pentingnya membeli rumah. Dia mengatakan milenial sebenarnya tidak susah membeli rumah karena sudah banyak alternatif, baik dari segi financing dan dari segi produk.

"Menurut saya, peluang untuk mendapatkan rumah jauh berbeda di banding dulu, misalnya yang masing single tidak harus membeli rumah dengan 3 kamar tidur, mereka bisa membeli rumah dengan satu atau dua kamar dengan konsep rumah tapak maupun apartemen," lanjutnya.

Selain itu, mereka juga bisa memilih rumah yang terjangkau. Dia mencontohkan dengan gaji Rp8 juta hingga Rp10 juta, bisa membeli rumah 1 kamar dengan cicilan Rp3 juta hingga Rp4 juta.

Bahkan Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan produk yang mempermudah milenial bisa memiliki alternatif financing karena mereka tau milenial perlu diedukasi dengan pengeluaran mereka.

"Jadi, peminat properti ada, bukan menurun. Akan tetapi mereka menahan untuk beli rumah. Menurut saya itu faktor edukasi saja. Anyway banyak developer juga sudah memberikan tawaran untuk menyicil DP," tambahnya.

Tag : rumah, generasi milenial
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top